Meskipun membutuhkan dukungan infrastruktur dan investasi yang besar, pembangunan data center di wilayah Indonesia timur merupakan langkah yang realistis. Hal tersebut berdasarkan penilaian dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) beberapa waktu yang lalu.
Ketua Industri AI, IoT & Big Data Mastel Teguh Prasetya mengatakan desentralisasi pusat data, termasuk untuk kebutuhan disaster recovery center (DRC), sangat memungkinkan dilakukan di luar Pulau Jawa.
“Tinggal seberapa besar size dan usecasenya yang tentunya harus mengikuti dan sejalan dengan besaran investasi tersebut,” kata Teguh kepada Bisnis, Jumat (8/5/2026).
Menurut Teguh, hingga saat ini pembangunan data center masih banyak terpusat di Jawa karena didukung ketersediaan infrastruktur utama yang lebih memadai, mulai dari jaringan fiber optik (FO), listrik, air, hingga kawasan industri dan sarana penunjang lainnya. Selain itu, mayoritas permintaan pengguna juga masih berada di Pulau Jawa.
Namun, dia menilai pembangunan data center di Indonesia timur akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan karena dapat mendorong investasi pada infrastruktur penunjang secara lebih luas.
Mastel mencatat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki eksposur risiko yang unik terhadap pembangunan pusat data. Salah satu studi menunjukkan 11 dari 28 data center yang disampling di ASEAN diproyeksikan menghadapi tingkat water stress “medium-high” hingga “extremely high” pada 2030, termasuk di Indonesia dan Thailand. Selain itu, risiko gempa bumi, banjir, dan bencana alam lain juga perlu diperhitungkan dalam desain ketahanan fasilitas.
Di sisi lain, sistem kelistrikan Jawa-Bali saat ini mengalami oversupply. Meski terlihat positif, kondisi tersebut justru menimbulkan tekanan finansial terhadap PT PLN akibat kewajiban pembayaran tetap dalam perjanjian jual beli listrik (PPA) jangka panjang untuk pembangkit batu bara.
Menurut Mastel, kondisi itu secara paradoks menghambat penambahan kapasitas energi terbarukan baru. Kesiapan infrastruktur kontrol jaringan juga masih menjadi tantangan. JAMALI Control Center yang mengelola sekitar 70% kapasitas pembangkit Indonesia dinilai masih memiliki keterbatasan pada kapasitas database, kemampuan forecasting energi terbarukan variabel, hingga analisis stabilitas grid.
Secara kuantitatif, infrastruktur data center Indonesia terus berkembang. Pada 2025, Indonesia memiliki 81 fasilitas data center operasional dan 24 fasilitas tambahan yang masih dalam tahap pembangunan atau perencanaan di lebih dari 18 kota.
Kapasitas IT load diproyeksikan meningkat dari 1,44 GW pada 2025 menjadi 3,56 GW pada 2030 dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 19,89%.
Beroperasinya Pusat Data Nasional (PDN) di Cikarang sejak Maret 2025 juga menjadi tonggak penting dalam konsolidasi beban kerja pemerintah. Kehadiran hyperscaler global seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft yang telah mengaktifkan atau mengumumkan region multi-availability zone (AZ) di Indonesia turut memperkuat ekosistem digital nasional dengan latensi domestik di bawah 20 milidetik.
Selain itu, Oracle meluncurkan region cloud pertamanya di Batam pada Juli 2025. Kolaborasi Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra internasional untuk pengembangan fasilitas hyperscale di Batam dan Jakarta juga menunjukkan momentum investasi yang terus meningkat.
Meski demikian, Teguh menilai kesiapan infrastruktur untuk kebutuhan artificial intelligence (AI) masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, fasilitas AI-ready membutuhkan spesifikasi khusus seperti liquid cooling, power density tinggi per rak, serta konektivitas ultra-rendah latensi antar GPU cluster.
Menurut Teguh, Indonesia masih berada pada tahap awal pembangunan kapasitas tersebut. Dia mencontohkan kolaborasi Indosat dan NVIDIA yang bermigrasi dari GPU H100 ke Blackwell GB200, serta peluncuran fasilitas AI CGK4 milik BDx Indonesia berbasis energi terbarukan sebagai langkah awal yang menjanjikan.
“Namun masih perlu diperluas secara masif,” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong pembangunan data center tidak hanya terpusat di wilayah barat Indonesia, tetapi juga menjangkau kawasan timur.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto mengatakan pemerintah tengah menyiapkan master plan pengembangan data center nasional, khususnya untuk sektor swasta.
“Kami mengupayakan bagaimana data center itu jangan terfokus di satu wilayah, wilayah Barat,“ kata Wayan dalam acara Indotelko Forum “How 5G and AI can Accelerate Indonesia’s Digital Economy” di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurut Wayan, data center kini bukan sekadar fasilitas penyimpanan data, melainkan telah menjadi tulang punggung ekonomi digital sekaligus fondasi utama pengembangan AI. Kebutuhan komputasi skala besar, penyimpanan data masif, hingga integrasi cloud dan edge computing diperkirakan akan terus meningkat.
Karena itu, arah kebijakan Komdigi ke depan adalah memperkuat ekosistem data center nasional sebagai aset digital strategis, mendorong kedaulatan data, sekaligus memastikan pengembangan pusat data yang efisien dan berkelanjutan melalui konsep green data center.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi hub data center di kawasan, dan ini harus kami dorong menjadi lebih serius sebagai bagian dari pemosisian strategis nasional,” katanya.
Di tengah dorongan pemerataan pembangunan pusat data, Equinix Indonesia mengungkap ekspansi perusahaan saat ini masih akan terfokus di Jakarta.
Managing Director Equinix Indonesia Haris Izmee mengatakan perusahaan tengah melanjutkan pengembangan fase berikutnya dari pusat data JK1 International Business Exchange (IBX).
“Saat ini, kami tengah melanjutkan pengembangan fase berikutnya dari pusat data JK1 International Business Exchange™ (IBX®),” kata Haris.
Equinix menargetkan penambahan lebih dari 1.000 kabinet pada JK1 Fase 2 yang dijadwalkan rampung pada kuartal IV/2026.
Kapasitas ini dirancang untuk mendukung kebutuhan AI, termasuk inferensi, dengan akses ke layanan seperti GroqCloud™ melalui Equinix Fabric.
Menurut Haris, lokasi JK1 di kawasan CBD Jakarta memberikan keunggulan berupa akses berlatensi rendah ke pusat keuangan dan meningkatkan performa layanan digital serta sistem pembayaran. Selain itu, perusahaan juga menghadirkan teknologi orkestrasi berbasis AI melalui Equinix Fabric Intelligence yang memungkinkan pengelolaan jaringan lebih otomatis dan efisien.
Haris mengatakan perusahaan juga memastikan infrastruktur siap AI melalui penggunaan teknologi pendinginan canggih seperti liquid-ready cooling. Ekspansi tersebut juga sejalan dengan target global Equinix untuk mencapai 100% penggunaan energi terbarukan pada 2030.
“Di Indonesia, kami memanfaatkan sertifikat energi terbarukan serta terus mengeksplorasi efisiensi energi untuk mendukung target Indonesia Emas 2045,” katanya.
Dia menilai Indonesia memiliki potensi strategis besar untuk menjadi hub digital regional karena didukung netralitas geopolitik dan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Meski demikian, Haris menilai terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan, mulai dari ketahanan energi dan operasional, kedaulatan data, hingga percepatan perizinan.
Menurutnya, pendekatan berbasis otomatisasi dan kecerdasan jaringan akan menjadi kunci dalam memastikan efisiensi dan keandalan operasional di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI.
Selain itu, implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) dan PP 71 menjadikan aspek kedaulatan data semakin penting dalam pembangunan infrastruktur digital nasional.
“Dengan terus mengembangkan infrastruktur berbasis konektivitas serta investasi pada talenta digital, Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk tidak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga menjadi pusat digital regional yang tangguh,” katanya.
