Kabarpasar.id – Persaingan kecerdasan buatan (AI) global memasuki fase baru setelah perusahaan rintisan Amerika Serikat (AS), Anthropic, mengusulkan adanya mekanisme jeda sementara bagi pengembangan AI paling canggih.
Gagasan tersebut muncul ketika industri teknologi tengah berlomba menciptakan sistem yang semakin mandiri, sekaligus memicu perdebatan mengenai batas keamanan dan tata kelola teknologi masa depan.
Usulan itu menjadi sorotan karena datang dari salah satu pemain utama AI dunia yang sedang berkembang pesat melalui model Claude. Anthropic menilai dunia perlu memiliki pilihan untuk memperlambat laju pengembangan AI mutakhir apabila risikonya mulai melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
Dilansir dari The Guardian, Senin (8/6/2026), Anthropic menilai model AI mereka, Claude, menunjukkan tren peningkatan kemampuan yang patut dicermati. Perusahaan itu menyatakan bahwa perkembangan tersebut, “jika dibawa lebih jauh dan didukung daya komputasi yang cukup, akan mengarah pada sistem AI yang mampu secara mandiri merancang dan mengembangkan penerusnya sendiri,” sehingga berpotensi meningkatkan risiko “manusia kehilangan kendali atas sistem AI.”
Karena itu, Anthropic mengusulkan pembahasan bersama yang melibatkan pembuat kebijakan, peneliti, masyarakat sipil, dan perusahaan AI lain. Dalam pernyataannya, perusahaan tersebut menegaskan, “Kami percaya dunia perlu memiliki pilihan untuk memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan AI garis depan agar struktur sosial dan penelitian penyelarasan mampu mengejar laju kemajuan teknologi.”
Namun, langkah Anthropic memunculkan pertanyaan karena hampir bersamaan dengan laporan Financial Times yang menyebut perusahaan itu menempatkan insinyurnya di lingkungan National Security Agency untuk membantu penggunaan model AI Mythos dalam operasi siber ofensif. Situasi tersebut memicu kritik mengenai konsistensi sikap perusahaan terhadap isu keamanan AI.
Profesor Steven Murdoch dari University College London menilai dua perkembangan itu tidak mengejutkan. “Anthropic mungkin memberi kesan hangat dan bersahabat, tetapi definisi mereka tentang keamanan AI cukup sempit. Mendukung pengembangan kemampuan ofensif pemerintah Amerika Serikat bukanlah sesuatu yang pernah mereka tolak,” ujarnya.
Murdoch juga menilai laporan terbaru Anthropic belum menunjukkan adanya lompatan mendasar dalam kemampuan AI. Menurutnya, “Memang ada bukti bahwa kemampuan AI terus meningkat tanpa batas yang langsung terlihat, tetapi saya tidak berpikir ada sesuatu yang secara fundamental berubah hari ini sehingga mendorong Anthropic menerbitkan laporan tersebut.”
Di sisi lain, Anthropic mengakui bahwa AI mereka belum benar-benar mampu meningkatkan dirinya sendiri secara penuh. Meski demikian, perusahaan menyebut sebagian besar pekerjaan untuk menyempurnakan sistem AI kini telah dibantu oleh AI itu sendiri.
Claude disebut mampu menjalankan eksperimen, mempercepat proses pengodean, mengarahkan penelitian, serta mengusulkan eksperimennya sendiri dalam ruang lingkup yang masih terbatas.
Anthropic bahkan mengungkapkan bahwa, “Per Mei 2026, lebih dari 80 persen kode yang kami gabungkan ke dalam basis kode Anthropic ditulis oleh Claude.” Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana AI mulai mengambil peran penting dalam pengembangan teknologi generasi berikutnya.
Perdebatan semakin menghangat karena dua bulan lalu Anthropic memperkenalkan Mythos, tetapi menahan peluncuran publiknya dengan alasan keamanan siber. Langkah tersebut menarik perhatian pemerintah Amerika Serikat dan badan intelijen Inggris, meski sebagian pakar mempertanyakan apakah kemampuan Mythos benar-benar sebesar yang diklaim. Kepala ilmuwan AI di AI Now Institute, Heidy Khlaaf, bahkan menyebut pengumuman itu sebagai “materi pemasaran.”
Di tengah kontroversi tersebut, Anthropic juga mengajukan penawaran saham perdana yang diperkirakan dapat menilai perusahaan hingga sekitar 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp 18.040 triliun dengan kurs Rp 18.040 per dolar AS. Kondisi itu membuat seruan jeda AI bukan sekadar isu teknologi, melainkan bagian dari perebutan pengaruh geopolitik, keamanan siber, dan kepemimpinan ekonomi global yang akan membentuk arah industri AI pada dekade mendatang.

