Saat Harga Turun, Vanguard, Blackrock, dan Manulife Beli Saham MTEL, Ini Penjelasan Analis

Saat Harga Turun, Vanguard, Blackrock, dan Manulife Beli Saham MTEL, Ini Penjelasan Analis

Kinerja dan Strategi MTEL yang Menarik Perhatian Investor

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) terus menjadi perhatian investor, terutama dari kalangan institusi asing. Selama tahun ini, mereka menunjukkan agresivitas dalam menambah kepemilikan saham di emiten yang sering disebut Mitratel. Meski harga saham MTEL mengalami penurunan sepanjang tahun ini, langkah tersebut menunjukkan keyakinan investor terhadap potensi pertumbuhan perusahaan.

Pada Senin (20/10), harga saham MTEL turun 1,8% ke Rp 545. Namun, berdasarkan data dari Bloomberg, Blackrock menambah kepemilikan sahamnya sebanyak 37.900 menjadi total 43,89 juta saham atau 0,05%. Sementara itu, Manulife Financial Corp juga menambah 22,15 juta saham menjadi 40,53 juta saham atau 0,05%. Pekan lalu, Vanguard Group Inc juga meningkatkan kepemilikan sahamnya sebesar 139.400 unit menjadi 703,73 juta atau 0,86%.

Beberapa faktor mendorong langkah agresif institusi asing tersebut. Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memproyeksikan bahwa kinerja MTEL akan membaik pada tahun 2026 seiring dengan perbaikan ekonomi yang mendorong pertumbuhan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU). Dengan demikian, diharapkan ada perbaikan profitabilitas perusahaan telekomunikasi yang akan mendorong ekspansi jaringan dan meningkatkan permintaan menara telekomunikasi.

Selain itu, kepemilikan Mitratel merata di luar pulau Jawa. Kondisi ini menguntungkan perseroan karena sejalan dengan rencana ekspansi operator telekomunikasi yang mengincar pertumbuhan di Sumatera, Sulawesi, dan Indonesia Timur. Faktor lain adalah jumlah kas dan setara kas terbesar, yaitu Rp 2,76 triliun. Dukungan dari induk usaha operator telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia, juga menjadi pertimbangan menarik, terutama saat industri telekomunikasi melakukan konsolidasi bisnis.

Sentimen Positif untuk MTEL

Pengamat pasar modal, Redy Octa, menyebutkan bahwa MTEL memiliki sejumlah sentimen positif yang bisa menopang pergerakan harga sahamnya ke depan. Salah satunya adalah pembelian kembali saham (buyback) dengan target dana sebesar Rp 1 triliun. Buyback merupakan sentimen positif bagi suatu emiten dengan ekspektasi bisa memberikan dorongan untuk investor meyakini bahwa manajemen internal yakin akan kinerja perusahaan kedepan secara fundamental dan momentum, sehingga hal ini dapat menguatkan harga sahamnya.

Manuver buyback MTEL membuat jumlah saham beredar semakin berkurang. Hal ini berdampak kepada rasio dividend per share (DPS) dan pergerakan harga yang jauh lebih stabil. Di sisi lain, struktur pemegang saham saat ini didominasi oleh investor institusi yang memiliki horizon investasi jangka panjang. Jika isu merger itu menjadi kenyataan, maka pergerakan harga bakal sangat atraktif karena floating shares sudah jauh berkurang.

Performa Keuangan dan Pertumbuhan Bisnis

Laba tahun berjalan MTEL berhasil naik dari Rp 1,06 triliun menjadi Rp 1,09 triliun, sehingga laba per saham emiten ini mencapai Rp 13 hingga semester I-2025. Pendapatan perseroan juga meningkat dari Rp 4,49 triliun menjadi Rp 4,59 triliun untuk periode sama. Pergerakan harga saham yang tidak mencerminkan kinerja fundamental ini menunjukkan harga saham MTEL kelewat murah (undervalued). Pada Selasa (21/10) pukul 09.14 WIB harga MTEL melesat 1,83% menjadi Rp 555 per saham.

Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas, menjelaskan bahwa MTEL mempertahankan posisinya sebagai pemilik menara terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dengan 39.782 menara. Segmen serat optik tetap menjadi mesin pertumbuhan utama, mengimbangi pertumbuhan stagnan di segmen menara. Bisnis serat optik memberi kontribusi yang meningkat terhadap pendapatan keseluruhan.

Fiber to the tower (FTTT) merupakan inisiatif utama MTEL untuk memenuhi permintaan operator seluler akan konektivitas yang lebih baik. Pendapatan serat optik melonjak 28,1% yoy menjadi Rp 287 miliar di semester I – 2025. “Kami memperkirakan, serat optik akan berkontribusi 6,2% dari total pendapatan 2025, didukung perluasan jaringan berkelanjutan,” kata Leonardo.

Harry dan Leonardo kompak merekomendasikan buy MTEL dengan target harga masing-masing Rp 650 per saham dan Rp 700 per saham.

sholeh.gnfi
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *