Hapsoro Jual Saham BUVA Rp578 Miliar, Apa Maksudnya?

Hapsoro Jual Saham BUVA Rp578 Miliar, Apa Maksudnya?

Penjualan Saham BUVA oleh Happy Hapsoro

Pemegang saham utama PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), Happy Hapsoro, melakukan penjualan besar-besaran terhadap saham perusahaan tersebut. Dalam aksi jual ini, ia menjual sebanyak 709,82 juta saham BUVA yang menghasilkan dana sebesar Rp 578,50 miliar.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), kepemilikan saham Happy Hapsoro di BUVA berkurang dari 820,67 juta saham menjadi 110,84 juta saham setelah transaksi tersebut. Persentase hak suaranya juga turun dari 3,99% menjadi 0,54%.

Dalam keterbukaan informasi BEI, Happy Hapsoro menyatakan bahwa tujuan dari transaksi ini adalah untuk merealisasikan keuntungan dan menyelaraskan portofolio investasinya. Meskipun jumlah sahamnya secara pribadi berkurang drastis, ia masih mempertahankan kendali atas BUVA melalui perusahaan induknya, PT Nusantara Utama Investama.

Berdasarkan laporan registrasi pemegang efek per 30 September 2025, PT Nusantara Utama Investama tercatat sebagai pemegang saham mayoritas BUVA dengan porsi sebesar 67,02%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Happy Hapsoro mengurangi kepemilikan langsungnya, ia tetap memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan dan strategi perusahaan.

Rencana Ekspansi BUVA di Sektor Perhotelan

BUVA tidak hanya fokus pada penjualan saham, tetapi juga merencanakan ekspansi besar di sektor perhotelan. Perseroan sedang menyiapkan akuisisi mayoritas saham anak usaha Summarecon Agung Tbk (SMRA) senilai Rp 175 miliar.

Dalam surat resmi kepada BEI, BUVA akan mengambil alih 55% saham PT Bukit Permai Properti (BPP) dari dua entitas anak SMRA, yaitu PT Summarecon Bali Indah dan PT Bali Indah Development. Akuisisi ini akan dilakukan seiring dengan rencana BUVA melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue.

“Dengan pengambilalihan mayoritas saham BPP, maka Perseroan akan menjadi Pengendali BPP,” tulis manajemen BUVA dalam keterbukaan informasi yang diteken Direktur Utama BUVA Satrio.

BPP diketahui memiliki aset hotel dan lahan premium di kawasan Pecatu, Bali. Langkah ini menjadi bagian dari rencana strategis BUVA memperkuat portofolio hotel mewah di destinasi wisata unggulan.

Strategi Sinergi Operasional

Perseroan menyebutkan bahwa sinergi dengan anak usaha SMRA akan didukung oleh investasi infrastruktur untuk menciptakan nilai tambah serta memperkuat posisi Perseroan di industri perhotelan. BUVA menilai kawasan Pecatu merupakan kawasan wisata dengan pasar premium atau luxury travellers yang menyajikan pengalaman berlibur dan pelayanan personalized.

Strategi Perseroan untuk membedakan posisi produknya dari kompetitor hotel lain di area Pecatu adalah dengan memanjakan mata para tamu melalui pemandangan dan desain. Meski begitu, manajemen BUVA belum bisa menjelaskan rencana pengembangan di kawasan Pecatu tersebut secara detail.

sholeh.gnfi
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *