Raditya Dika, yang dikenal sebagai komedian, penulis, dan sutradara, memiliki kebiasaan mengatur keuangan dengan sangat baik. Di balik kesibukannya, ia memperhatikan pentingnya financial freedom atau kebebasan finansial. Untuk mencapai hal tersebut, ia menerapkan konsep sederhana namun efektif yang dikenal dengan istilah 4% Rule.
Dalam sebuah diskusi di podcast bersama Agatha Chelsea, Raditya Dika menyampaikan bahwa ia telah mengenal aturan ini sejak masa kuliah. Baginya, financial freedom bisa dicapai ketika seseorang memiliki uang yang diinvestasikan, lalu menarik 4% dari hasil investasi setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Uang tersebut tidak akan habis selama hidupnya.
Contoh Sederhana Mengenai Kebebasan Finansial
Raditya Dika menjelaskan contoh sederhana untuk memahami cara kerja 4% Rule. Misalnya, jika seseorang ingin hidup dengan pengeluaran sebesar Rp100 juta per tahun, maka jumlah dana yang dibutuhkan adalah Rp100 juta dibagi 4%, atau setara dengan dikali 25. Hasilnya adalah Rp2,5 miliar. Artinya, seseorang perlu memiliki Rp2,5 miliar dalam bentuk investasi agar bisa menarik 4% per tahun (Rp100 juta) dan hidup dari dana tersebut.
Untuk memaksimalkan hasilnya, dana tersebut dapat ditempatkan di instrumen investasi seperti obligasi, reksa dana pendapatan tetap, atau aset lain yang memberikan imbal hasil rata-rata sekitar 7% per tahun. Dengan demikian, selain mampu menarik 4% untuk kebutuhan hidup, sisa 3% lainnya bisa digunakan untuk melawan inflasi atau menjaga daya beli di masa depan.
Mengapa 4% Tidak Akan Berdampak pada Dana Pokok?
Jika dana investasi menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 7%, menarik 4% per tahun tidak akan membuat nilai pokok menyusut. Bahkan, selisih 3% tersebut bisa digunakan untuk menjaga nilai uang dari inflasi, sehingga standar hidup tetap terjaga sepanjang hidup.
Menurut Raditya Dika, jika seseorang memiliki dana sebanyak itu, mereka bisa menarik 4% setahun dan tetap secara finansial bebas. Uang yang ditarik 4% setahun akan memenuhi gaya hidup mereka, dan dana tersebut tidak akan habis karena setiap tahunnya naiknya 7%.
Apa Itu 4% Rule dalam Finansial?
4% Rule adalah panduan keuangan yang digunakan untuk membantu seseorang mengetahui berapa banyak uang yang bisa ditarik dari tabungan pensiun setiap tahun agar tidak cepat habis. Aturan ini menyarankan bahwa saat pensiun, seseorang bisa mengambil sebanyak 4% dari total dana investasi atau tabungan di tahun pertama, lalu jumlah itu bisa disesuaikan setiap tahun mengikuti inflasi.
Misalnya, jika seseorang memiliki dana Rp1 miliar saat pensiun, maka mereka bisa menarik Rp40 juta di tahun pertama, dan tahun-tahun berikutnya bisa disesuaikan dengan inflasi agar daya beli tetap terjaga. Tujuan dari aturan ini adalah untuk memastikan uang cukup untuk membiayai hidup selama sekitar 30 tahun masa pensiun.
Aturan ini pertama kali diperkenalkan oleh William Bengen, seorang perencana keuangan asal Amerika Serikat pada tahun 1994. Ia melakukan penelitian berdasarkan data pasar historis di AS dan menemukan bahwa penarikan 4% per tahun dari portofolio campuran (saham dan obligasi) memungkinkan seseorang tetap memiliki dana pensiun yang cukup dalam jangka panjang.
Meski begitu, beberapa ahli keuangan saat ini menyarankan agar 4% Rule digunakan sebagai panduan awal, bukan aturan mutlak, karena kondisi pasar dan kebutuhan setiap orang bisa berbeda-beda.
Keuntungan dan Kekurangan Menggunakan 4% Rule
Meskipun menerapkan konsep 4% Rule dapat meningkatkan peluang agar tabungan pensiun bertahan, namun tetap saja aturan ini tidak menjamin hal tersebut sepenuhnya. Dasar dari aturan ini berdasarkan kinerja pasar di masa lalu, sehingga tidak mencerminkan kondisi perekonomian di masa sekarang. Strategi investasi yang dulunya dianggap aman bisa saja menjadi kurang efektif jika terjadi perubahan besar dalam kondisi ekonomi seperti sekarang.
Ada beberapa situasi di mana 4% Rule mungkin tidak bekerja dengan baik. Misalnya, saat terjadi penurunan pasar yang parah atau berlangsung lama, nilai investasi bisa turun dengan cepat, terutama jika portofolio berisi instrumen berisiko tinggi. Ini tentu dapat mempercepat habisnya dana pensiun.
Selain itu, kedisiplinan menjadi kunci keberhasilan aturan ini. Jika seorang pensiunan melanggar aturan dan menarik dana lebih besar untuk pengeluaran tak terduga, seperti belanja besar-besaran, hal ini dapat berdampak serius di masa depan. Mengurangi pokok dana berarti memperkecil efek bunga majemuk yang seharusnya menopang kestabilan dana pensiun dalam jangka panjang. Namun demikian, 4% Rule memiliki beberapa keuntungan yang jelas.
Aturan ini tergolong sederhana, mudah diikuti, dan memberikan penghasilan yang stabil serta bisa diprediksi setiap tahun. Jika diterapkan dengan konsisten, konsep ini juga dapat membantu mencegah risiko kehabisan dana selama masa pensiun.

