Provinsi Bengkulu, yang terletak di Pulau Sumatera, masih menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, persentase penduduk miskin di Bengkulu mencapai 14,62 persen dari total populasi sebanyak lebih dari 2 juta jiwa. Angka ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan masih menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan masyarakat setempat.
Perkembangan Penduduk dan Tingkat Kemiskinan

Dari data tersebut, terdapat lima daerah di Provinsi Bengkulu yang menjadi penyumbang terbesar angka kemiskinan. Meski secara nasional angka kemiskinan di Indonesia berada pada kisaran 8,47 persen, Bengkulu masih jauh di atas rata-rata tersebut. Bahkan, pada Maret 2025, persentase penduduk miskin di Bengkulu mencapai 12,08 persen atau sekitar 252.970 orang, menjadikannya provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua di Pulau Sumatera setelah Aceh.
Berdasarkan data BPS, penduduk Provinsi Bengkulu pada tahun 2022 terdiri dari 1.053,20 ribu penduduk laki-laki dan 1.006,89 ribu penduduk perempuan. Rasio jenis kelamin pada tahun tersebut sebesar 104,6, yang menunjukkan sedikit dominasi jumlah penduduk laki-laki. Mayoritas penduduk, yaitu sekitar 69,14 persen, berada dalam kelompok usia produktif (15-64 tahun), sementara sisanya berada dalam kelompok usia non-produktif.
Pembagian Wilayah dan Jumlah Penduduk
Secara geografis, penduduk terbanyak di Provinsi Bengkulu terdapat di Kota Bengkulu dengan jumlah penduduk sebanyak 384.800 jiwa. Diikuti oleh Kabupaten Bengkulu Utara dengan 302.800 jiwa. Sementara itu, jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Kabupaten Lebong, yaitu sebanyak 107.300 jiwa. Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2010, penduduk Bengkulu mengalami pertumbuhan sebesar 1,40 persen. Namun, laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Mukomuko tercatat tertinggi, yaitu 1,81 persen, sedangkan Kabupaten Lebong memiliki laju pertumbuhan terendah, hanya 0,51 persen.
Baca juga: Daftar 10 Provinsi Termiskin di Indonesia Tahun 2024 Versi BPS
Metode Pengukuran Kemiskinan
BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) untuk mengukur tingkat kemiskinan. Pendekatan ini menilai kemiskinan sebagai ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar, baik makanan maupun bukan makanan. Dalam hal ini, Garis Kemiskinan di Bengkulu per Maret 2025 berada di angka Rp683.820,- per kapita per bulan. Komposisi garis kemiskinan terdiri dari 73,63% untuk makanan dan 26,37% untuk non-makanan.
Sebagai informasi tambahan, rata-rata rumah tangga miskin di Bengkulu memiliki 4,59 anggota. Untuk bisa keluar dari garis kemiskinan, sebuah rumah tangga harus memiliki pengeluaran minimal Rp3.138.734,- per bulan.
Penurunan Tingkat Kemiskinan Jangka Panjang
Meskipun secara umum tingkat kemiskinan di Bengkulu masih tinggi, tren jangka panjang menunjukkan penurunan. Pada Maret 2024, jumlah penduduk miskin mencapai 281.360 orang, namun pada Maret 2025 turun menjadi 252.970 orang—penurunan sebesar 28.390 orang dalam setahun. Penurunan ini dipengaruhi oleh perbaikan akses bantuan sosial, program padat karya, dan hasil panen raya di beberapa wilayah.
Namun, tren penurunan tidak merata antar wilayah. Di kota, persentase penduduk miskin justru naik dari 12,32% pada September 2024 menjadi 12,34% pada Maret 2025. Sementara itu, di perdesaan terjadi penurunan dari 12,63% menjadi 11,95%. Penurunan di perdesaan disebabkan oleh berbagai program pemerintah yang fokus pada daerah-daerah terpencil.
Lima Daerah Termiskin di Bengkulu
Berikut adalah daftar lima daerah termiskin di Provinsi Bengkulu berdasarkan data BPS tahun 2022:
- Kabupaten Bengkulu Selatan
- Persentase kemiskinan: 20,1%
- Alasan: Keterbatasan akses infrastruktur dan layanan publik.
- Kabupaten Bengkulu Utara
- Persentase kemiskinan: 18,7%
- Alasan: Tingkat pengangguran yang tinggi dan minimnya peluang ekonomi.
- Kabupaten Lebong
- Persentase kemiskinan: 17,9%
- Alasan: Wilayah terpencil dengan akses transportasi yang kurang memadai.
- Kabupaten Mukomuko
- Persentase kemiskinan: 16,8%
- Alasan: Ketergantungan pada sektor pertanian yang rentan terhadap cuaca.
- Kabupaten Kepahiang
- Persentase kemiskinan: 15,5%
- Alasan: Kurangnya investasi di bidang pendidikan dan kesehatan.
Upaya Pemerintah Bengkulu dalam Mengatasi Kemiskinan
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, pernah menyatakan bahwa kemiskinan di Bengkulu termasuk akut. Ia menyarankan agar pemerintah fokus pada intervensi langsung kepada rumah tangga miskin melalui berbagai program yang berkelanjutan. Gubernur Bengkulu, Ridwan Mukti, juga menjadikan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama, terutama di 653 desa tertinggal.
Beberapa program unggulan yang diluncurkan antara lain penguatan komoditas agromaritim, pengembangan infrastruktur strategis, serta transformasi birokrasi berbasis teknologi. Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan konektivitas daerah melalui pembangunan jalan, pelabuhan, dan bandara.
Kesimpulan
Provinsi Bengkulu masih menghadapi tantangan besar dalam mengentaskan kemiskinan. Meski ada penurunan angka kemiskinan secara jangka panjang, tingkat kemiskinan masih relatif tinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Sumatera. Lima daerah termiskin di Bengkulu, seperti Kabupaten Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara, menjadi fokus utama dalam upaya pemerintah. Dengan berbagai program dan kebijakan yang dirancang, diharapkan kemiskinan di Bengkulu dapat terus diminimalkan hingga suatu saat bisa diberantas sepenuhnya.
