Provinsi Banten kembali menjadi perhatian publik setelah Calon Gubernur Banten nomor dua, Andra Soni, menyebut bahwa Banten merupakan provinsi dengan tingkat penduduk miskin tertinggi kelima di Pulau Jawa. Pernyataan ini disampaikan dalam debat kedua Pilkada Banten yang berlangsung pada 7 November 2024. Namun, sejauh mana kebenaran dari klaim tersebut? Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi data terkini mengenai kemiskinan di Banten serta daerah-daerah yang paling terdampak.
Data Terbaru tentang Kemiskinan di Banten

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per-Maret 2024, Banten memang termasuk dalam lima provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Pulau Jawa. Meskipun demikian, angka kemiskinan di Banten mencerminkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Persentase penduduk miskin nasional pada Maret 2024 turun menjadi 9,03 persen, dengan jumlah penduduk miskin sebesar 25,22 juta orang. Sementara itu, Banten berada di posisi delapan dari seluruh provinsi di Indonesia dengan tingkat kemiskinan terendah.
Daftar Wilayah dengan Penduduk Miskin Terbanyak

Menurut data BPS tahun 2022, ada delapan kabupaten dan kota di Banten yang termasuk dalam daerah dengan penduduk miskin terbanyak. Berikut adalah daftar lengkapnya:
- Kabupaten Tangerang. Kabupaten Tangerang menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Banten, yaitu sekitar 270,55 ribu jiwa. Angka ini sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
- Kota Tangerang. Kota Tangerang berada di posisi kedua dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 132,88 ribu jiwa.
- Kabupaten Lebak. Kabupaten Lebak memiliki jumlah penduduk miskin sebanyak 117,22 ribu jiwa.
- Kabupaten Pandeglang. Pandeglang juga masuk dalam daftar daerah termiskin, dengan jumlah penduduk miskin sebesar 114,65 ribu jiwa.
- Kabupaten Serang. Kabupaten Serang memiliki tingkat kemiskinan yang lebih rendah dibandingkan daerah lain, namun tetap masuk dalam daftar wilayah dengan penduduk miskin terbanyak.
Faktor Penyebab Kemiskinan di Banten
Beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya tingkat kemiskinan di Banten antara lain:
- Kurangnya akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang berkualitas.
- Ketidakstabilan ekonomi akibat dampak pandemi dan fluktuasi harga bahan pokok.
- Ketergantungan pada sektor pertanian dan perikanan yang rentan terhadap cuaca dan pasar global.
- Kurangnya kesempatan kerja di sektor industri dan teknologi.
Selain itu, tingkat pengangguran di Banten juga menjadi perhatian serius. Menurut data BPS, tingkat pengangguran di Banten berada di posisi kedua tertinggi di Pulau Jawa, setelah DKI Jakarta.
Upaya Pemerintah dalam Mengurangi Kemiskinan
Pemerintah Provinsi Banten telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi kemiskinan, seperti:
- Program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan dan pengembangan usaha kecil.
- Peningkatan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
- Penguatan sistem perlindungan sosial melalui bantuan langsung tunai dan program kesejahteraan lainnya.
Namun, tantangan masih besar, terutama dalam hal distribusi sumber daya dan akses layanan dasar yang merata.
Baca juga: Daftar 10 Provinsi Termiskin di Indonesia Tahun 2024 Versi BPS
Kesimpulan
Meskipun Banten tidak menempati posisi teratas sebagai provinsi termiskin di Indonesia, angka kemiskinan dan pengangguran yang relatif tinggi menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dengan data yang tersedia, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk bekerja sama dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan. Hanya dengan kolaborasi yang kuat, Banten dapat meningkatkan kualitas hidup penduduknya dan mengurangi kesenjangan ekonomi.